Tampilkan postingan dengan label Bit-Bait Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bit-Bait Puisi. Tampilkan semua postingan

Bumi Cenderawasih


Oleh: Adhen Isodorus Dimi

Di barat  Pasifik
Kau berdiri gagah, megah
Simpan  ribu-ribu misteri
kau tanahku, negeri  Cenderawasih.

Subur, beri hidup tanpa menabur,
Butir embun saljumu manjakan hutan,
saatnya nanti, hutan manjakan fauna
Dan saatnya pula,
Flora fauna Papua manjakan manusia hitam berhati putih.

Pahlawan Theys Hiyo Eluwai



Theys.H.Eluwai
Bukit-bukit di negri cendrawasi kini mulai tenggelam
Oleh dara dan air mata
Apa yang dilakukan oleh bangsanya
Yang tertinggal

Untuk masyarakat yang sengsara
Apa gunanya keluh-kesah
Seoarang pejuang yang sedang tidak dirumah
Seandainya rakyatku mati dalam penindasan
Menurut nasibnya
Aku akan berkata “Mati dalam perjuangan
Lebih mulia dari hidup dalam pemberontakan”

Namun rakyatku tidak mati sebagai pemberontak
Kematian adalah satu-satunya penyelamat mereka,
Dan penderitaan adalah tanah air warisan merekaIngatlah saudaraku

Mentari Pagi Di Bukit Emas


Mentari pagi di bukit emas  
harum wangi bunga hutan 
merdu kicauan burung emas 

sungguh mempesona.....sungguh mempesona 
penderitaan menindih....hidup pun di tindas 
kami hanya ingin bebas 
menentukan nasib sendiri....hey....... 
kami ingin bebas......kami ingin bebas.... 
kami ingin bebas.....menentukan nasib sendiri.... 
banyak korban di atas tanah kami... 
Tuhan dengar jeritan kami.... 
hey.... 

Darahmu dan Mereka Lalat Berjas-dasi

Kaukah itu...?
Engkau yg masih menghiasi dalam sayatan sejarah ini?
dalam tak kuasa, di ujung jalan kau taburi wajahmu penuh noktah merah..kau masih ada dan masih menghias.

Tertidurlah sayang
pangkuan ibu pertiwi hangat terasa
tidurlah diatas tulang belulang itu
kemarin mereka, hari ini engkau dan besok waktuku..

Tangis Dogiay

Anak-anak mereka kini piatu
Sanak sodarnya menangis melelehkan air mata
Lelaki muda dipaksa sedih mengubar air mata
kini semua paham
kini semua tau sungai air mata bukan mimpi bukan khayalan
airnya jenih bagai danau Tigi-Tage
tak banjir dimusim penghujan
tak kering diwaktu kemarau tiba
sungai airmata selalu mengalir
entah dimana akan bermuara

Nyanyian Jiwa

Seruling cenderawasih merangkai nada
Angin utara menyapu daun nan rimba
Sinar surya menembus disela-sela dedaunan
tiada namun ada suaramenutup diri di hamparan hijau
jangkrit menyambut peraduan
Nyamuk rimba sehaus drakula penjajah
senyap malam membunuh rindu dan resah
senjata tua jadi bantal polo
rangsel kusut bantal malam

Mama, Kenapa Menangis

mama, kenapa menangis....
sudah cukup air mata itu
tercucur dipipimu yang kian keriput
matamu semakin memerah
terseduh-seduh dalam relungmu
urat yang membengkak di dahimu
serak suaramu itu
terasa berat kau ucapkan
menyimpannya bgitu rapih
dalam pasrah bisu
kau urai smua
bersama tangismu

Galau Hati Kami Untukmu Mako

diatas parah-parah kayu
Tertenggung kami disini,
sontak bergetar luluh perih hati
bulir air mata jatuh tak tertahan
Termanggu dalam hening jiwa
disaat engkau tak bersama lagi

Terkenang untaian kata darimu
teringat senyum yang pernah kau hadirkan
terpesona ceritamu yang pernah menyejukan jiwa
terkagum smua ketegaran, semangat juang yang pernah kau torehkan

Bait-Bait Puisi Jalanan

AIR MATA DALAM SUNYI

Apalah artinya hidup bila air mata tak sanggup menahan rasa
semua yang terjadi biarkan ia datang dan pergi tanpa bekas
biarkan ruang-ruang ini sa telusuri walau harus menahan gejolak batin
biarkan jalan-jalan ini kutapaki satu demi-demi satu,
walau harus menahan sunyi tak bertepi
biarkan darah juang membasahi naluri jiwa yang mengering
Demi negeri, sa tunduk saat hati berkata "tanah air atau mati"

 

Labels